Pernah dengan mitos kamera full frame lebih baik dari kamera crop seperti APSC atau Micro 3/4? Di Era digital photography seperti sekarang ini, pecinta fotografi dibanjiri banyak pilihan kamera. Tidak peduli seorang fotografer profesional, amatir atau hanya sekedar untuk casual documentation pas liburan atau foto kegiatan anak dan review makanan.

Dari level professional hingga pemula kini banyak pilihan jenis kamera dengan kualitas yang tidak main-main. Kalau jalan analog dulu hanya beberapa orang yang menjadi profesional fotografer yang pegang kamera dan bisa mengoperasikannya dengan baik. Kini di Era digital, semua orang yang bisa beli kamera akan bisa mengoperasikan kamera dengan mudah. Namun tentunya, masih ada spesialisasi kamera yang memang ditujukan untuk segment tertentu. Masing-masing produsen utama seperti Canon, Nikon, Sony dan Fujifilm membuat kamera untuk berbagai speciality. Mulai dari kamera untuk merekam extreme sports, underwater cameras for photographing the deep blue sea. Ditambah dengan banyaknya lensa yang tersedia untuk DSLR dan kamera mirrorless yang cocok untuk berbagai situasi.

Dari beragam jenis dan segment kamera digital yang ada sekarang, ada faktor pembeda yang jelas antar jenis. Itu membuat kamera cocok untuk kondisi tertentu. Termasuk kamera full frame yang banyak orang menganggap sebagai kamera terbaik. Dan pehobi atau profesional harus menggunakan kamera full frame. Benar kah demikian? Berikut ini ada 4 mitos kamera full frame. Semoga bisa membantu anda memilih kamera yang sesuai kebutuhan.

4 Mitos kamera full frame

4 Mitos kamera full frame
Perbedaan ukuran sensor kamera Full Frame dan Cropped Sensor

Myth #1: kamera full-frame lebih bagus daripada crop-sensor

Dibeberapa forum di internet maupun diskusi antar pecinta fotografi. Kebanyakan menyimpulkan bahwa kamera full frame lebih baik dari kamera crop-sensor (APSC atau micro 3/4). Namun itu tidak sepenuh nya benar, full frame memang lebih baik dibeberapa aspek terutama ukuran sensor dan pixel. Tapi kalau mendeclare full-frame secara umum lebih baik daripada crop-sensor adalah kurang benar.
Sparks attraction at roadside of Old Batavia, Jakarta #oldbatavia #jakarta #streetphotography
Atraksi bunga api di pelataran museum Kota Tua Jakarta (take with Canon 5D mkii + 70-200mm – Full Frame)

Satu analogi yang bisa digunakan dalam dunia transportasi / kendaraan. Full Frame dianalogikan dengan truk tronton dan crop-sensor dianalogikan sebagai truk pick-up yang lebih kecil kecil. Truk tronton sangat cocok untuk mengangkut barang-barang berat dengan ukuran yang besar seperti semen 30 ton keatas. Tentunya kapasitas 30 ton tidak akan bisa diangkut dengan menggunakan truk pick-up. Begitu juga sebaliknya, untuk mengangkut truk 10 zak saja akan cocok dengan truk pick-up. Truk pick-up dengan ukuran lebih kecil bisa lebih lincah dan flexible masuk ke gang-gang kecil.

Different not necessarily better

Meskipun truk lebih bagus secara kualitas dan ukuran, kedua kendaraan itu bagus untuk kebutuhan masing-masing. Hal ini juga berlaku untuk kamera. Kamera Full frame bekerja lebih baik di beberapa situasi dan kualitas seperti kemampuan di ISO yang lebih tinggi, better improve dynamic range. Dan tentunya improve kualitas gambar hasil jepretan. Tapi ada juga keunggulan dari kamera crop-sensor.

Ada beberapa keunggulan dari kamera ber-sensor lebih kecil:

  • Autofocus points mencapai hampir tepian keseluruhan  viewfinder.
  • Singkronisasi shutter speed lebih cepat.
  • Jangkauan lebih panjang — lensa 200mm pada crop-sensor camera sama saja seperti shooting dengan  lensa 300mm pada kamera full-frame. (walaupun sebenarnya karena sensornya crop jadinya terlihat seperti lebih dekat, seperti kalau kita melakukan crop di post processing tools)
  • Secara umum harganya lebih murah.

Tentunya beberapa point diatas adalah generalisasi, semua orang selalu mempunyai ekspektasi lebih untuk kamera full frame. Dari semua keunggulan full fram dan karena adanya kamera full frame bukan berarti kita butuh untuk punya. Lebih bijaksana jika disesuaikan dengan kebutuhan dan kantong ^_^.

Myth #2: Shooting dengan full-frame akan meningkatkan skill dan hasil foto

Mitos yang ini sangat mendekati dengan yang dinamakan GAS (Gear Acquisition Syndrome). Dimana kita menganggap kalau dengan menggunakan kamera full frame otomatis akan meningkatkan kualitas hasil foto. dan secara terus menerus ingin membeli kamera, lensa dan beberapa aksesoris lainnya. Pastinya dengan menggunakan kamera full frame dan aksesorisnya kita akan mendapatkan manfaat dan keuntungan dari full frame. Tapi yang perlu diingat, foto yang bagus bukan hanya mega pixel dan ketajaman foto yang bagus.

Apapun kamera yang dimiliki, baik itu handphone, kamera poket, crop sensor DSLR atau Full frame. Untuk menjadi fotografer yang lebih baik adalah dengan mempelajari fotografi lebih dalam, bukan dengan upgrage gear baru. Pada kenyataannya, bekerja dengan keterbatasan gear yang ada bisa meningkatkan skill fotogarafi kita. Misal: hanya punya lensa fix saja, maka untuk mendapatkan foto jarak dekat harus menggunakan zoom kaki. Alias fotografer nya yang mendekat ke object dan mencoba beriteraksi dengan object.

Intinya, untuk meningkatkan skill fotografi, lakukan latihan dasar-dasar fotografi setiap hari. Seperti composition, lighting, color, contrast, etc., that will lead to improvements.

The tour guide explaining the scene on the photo of Merapi volcano eruption. @merapi museum, kaliurang, jogja #kaliurang #merapi #gunungmerapi #merapimountain #jogja #yogyakarta #streetphotography #captureonstreet
Diambil menggunakan kamera crop sensor APSC Fujifilm X-T1 dengan lensa 23mm f1.4

Myth #3 Kamera Full-frame terlaulu mahal untuk casual photographers / amateur / hobbies

Pada waktu pertama kali keluar / release, kamera fullframe biasanya pisang harga sangat mahal. Baik untuk amatiran maupun fotografer profesional. Tapi dari tahun ketahun, harga kamera terus turun. Terutama setelah adanya versi yang lebih baru, seperti Canon 5D MkIV yang menggantikan versi Canon 5D mkiii atau mkii. Harga Canon 5d mkii kini turun drastis. Ini bisa jadi solusi buat yang mau mencoba kamera full frame dengan harga murah.
Selain itu, mulai banyak produsen seperti nikan dan canon mengeluarkan kamera fullframe versi lite. Canon mengeluarkan Canon 6D dan Nikon ada Nikon D610 dengan harga jauh lebih terjangkau dari kakaknya (5D atau D800). Kamera fullframe secara kualitas memang tidak bisa dipungkiri. Jadi bekasnya pun rasanya masih layak untuk dibeli ^__^

Myth #4 Semua fotografer serius pada akhirnya akan menggunakan Full-frame

Banyak yang meminta pendapat ketika mau beli kamera baru, enaknya beli yang crop sensor, atau langsung beli yang full-frame. Alasan beli yang full-frame supaya tidak beli lagi kalau nanti sudah bisa dan ingin mempelajari fotografi lebih lanjut. Atau biasanya takut dianggap warga kelas dua atau tiga dalam fotografi jika tidak menggunakan kamear full-frame. Nyatanya “It’s not like that at all”.

Teknologi sensor sekarang ini sangat bagus, meskipun anda menggunakan full-frame, crop sensor, medium format, miro four third atau bahkan kamera HP. Dari trend banyak fotografer yang menggunakan full-frame sekarang mempertimbangkan fitur, ukuran, kenyamanan kamera dan harga. Khususnya kamera mirrorless seperti Fujifilm X-T2 / X-Pro2, Sony A7R/S, Olympus OM-D dll.

Jika kebutuhanmu secara specific membutuhakan camera full-frame, merupakan idea yang bagus untuk invest di body kamera full-frame. Jika tidak, lebih baik invest di lensa, lighting dan training fotografi daripada membeli body kamera baru.

Review fujifilm x-t2
Body Fujifilm X-T2

Kesimpulan

Kamera apa yang kamu gunakan saat ini? apakah full-frame atau crop sensor? Jika menggunakan crop sensor, keterbatasan  saat menggunakan kamera tersebut?. Jika kamu pakai full-frame, apa yang kamu suka dari full-frame?

Sangat menarik mendengarkan pendapat para fotografer sekalian, silahkan kemukakan ide / pemikiran anda pada kolom komentar dibawah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here