No Comments

Investor Serius?

Investor Serius

Investor serius? Pertanyaan ini muncul kembali ketika saya memutuskan untuk kembali melantai di bursa efek Indonesia. Setelah dua tahunan sibuk dengan pekerjaan dan usaha yang sedang saya kembangkan, saya memindahkan investasi saya ke reksadana. Waktu itu dengan alasan tidak sempat memantau day to day untuk trading langsung.

Sekarang, setelah banyak belajar juga dari beberapa expert dan lebih dewasa juga dalam mengelola uang. Akhirnya saya kenal dengan istilah Dollar Cost averaging dan juga program Yuk Nabung Saham dari kawan-kawan IDX. Setelah saya pertimbangkan ternyata bener juga konsep yang juga menerapkan pola bunga berbunga atau compounding Interest tersebut.

Bukan berarti saya meminjamkan uang kemudian meminta bunganya berlipat lipat ya 😅. Tapi konsep yuk nabung saham dan dollar cost averaging cukup menarik perhatian saya. Awalnya saya terapkan di reksadana. Saya selalu menambah investasi saya setiap bulan ketika ada pemasukan uang, dan lama kelamaan harusnya menggulung keuntungan yang semakin besar karena hasil investasi reksadana nya dimasukkan kembali dan dihitung sebagai modal untuk next perhitungan hasil investasinya.

Tapi karena reksadana dikelola oleh manager investasi, keuntungan investasi reksadana tidak bisa maksimal, walaupun saya ambil reksadana saham sekalipun. Sebagian besar keuntungan investasi akan mengalir ke perusahaan sekuritas dan manager invetasi tempat saya “menitipkan” uang saya. Akhirnya mulai tahun ini (2021) saya putuskan kembali untuk menjadi investor serius di saham.

Investor Serius

Investor Serius

Saat menulis artikel ini, saya sedang membaca buku “Simple Stories for a Simple Investor, Stop being njlimet!” karangan Nicky Hogan. Ada paragraf di awal-awal buku yang cukup menyentil saya, yaitu ketika dia menanyakan seberapa seriuskah kita untuk menjadi investor serius. Berikut citation yang saya ambil langsung dari buku tersebut:

Investor Serius

Seberapa serius kita ingin menjadi seorang investor serius?

Ketika harga saham kita sedang naik, seberapa serius kita tidak tergoda untuk tidak menjualnya?

Ketika harga saham kita sedang stagnan, seberapa serius kita menahan kejenuhan dan kebosanan?

Ketika harga saham kita sedang turun, seberapa serius kita bertahan dengan tujuan jangka panjang kita?

Mari tidak hanya berpikir sebagai seorang investor saham saja, tetapi layaknya sebagai seorang pemilik perusahaan.

Nicky Hogan – Simple Stories for a Simple Investor
You might also like
Tags:

More Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu