Ilmu NonFormal

Ketika 80% Ilmu NonFormal, dan Apakah pembelajaran di Universitas Obsolete?

Ketika membaca 80% Ilmu NonFormal di salah satu sub bab buku Prof Rhenald Kasali yang berjudul Self Driving (artikel itu juga diterbitkan di jawa pos, 23 Juli 2012), saya tidak kaget sama sekali. Apalagi dalam masa pandemi seperti sekarang ini, semakin memperkuat bahwa ilmu itu akan lebih banyak dan up to date dipelajari secara nonformal.

Mengapa demikian? Saya pribadi setuju dengan professor Rhenald Kasali tentang berapa lama waktu yang dihabiskan di tempat kuliah, universitas, tempat kursus atau lembaga resmi pendidikan lainnya dibandingkan ketika berada di masyarakat?

Seperti yang diutarakan Prof Rhenald Kasali dalam tulisannya, sebagian besar waktu kita habiskan di masyarakat. Dijaman sekarang mungkin agak bergeser, definisi masyarakatnya bisa bergeser menjadi masyarakat digital 😅, karena pagi siang dan malam kebanyakan dari kita tidak bisa lepas dari laptop dan smartphone.

Kembali ke formal dan non-formal. Pendidikan formal seperti sekolah, universitas, dan lembaga kursus memberikan dasar-dasar sebuah ilmu. Kalau kamu hanya mengandalkan ilmu dari pendidikan formal tersebut, maka akan banyak tertinggal dengan kebutuhan lapangan pekerjaan yang dibutuhkan oleh industri. Sekarang ini industri lebih banyak membutuhkan tenaga kerja yang siap pakai dari pada harus memberikan pendidikan tambahan sebelum bisa bekerja sesuai dengan ritme perusahaan.

kelanjutannya nanti dulu ya… bersambung 😁🙏🏼

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer