Transition from Employee to Entrepreneur

Transition from Employee to Entrepreneur – part 2

Making transition from being employee to an entrepreneur can be intimidating, seperti yang saya sebutkan di part 1 artikel ini. Banyak pengusaha yang mengalami permasalahan ini ketika pertama kali berpindah dari seorang profesional / karyawan ke dunia usaha yang dikelolanya sendiri. Saya melihat banyak yang sharing di youtube atau seminar-seminar tentang kesuksesan seorang entreprenuer yang sangat menginspirasi. Akan tetapi untuk menjadi entrepreneur yang sukses, kita harus mencontoh practical strategis ketika dia melakukan percobaan dan testing sebelum meluncurkan bisnisnya. Juga kesalahan-kesalahan apa yang telah dia lakukan dan bagaimana dia menanggulanginya agar kita tidak terjebak dilubang yang sama.

Entrepreneurship memang tidak untuk semua orang, tapi mengadopsi mindset seorang entreprenuer akan banyak membantu mendapatkan tujuan baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan. Learning to think like an entrepreneur akan membantu mendorong dalam menghadapi ketidakpastian, eksplorasi dan kegagalan sebagai alat untuk pengembangan pribadi. Yang jelas akan lebih siap untuk menghadapi naik turunnya perjalanan hidup dan pekerjaan, and enjoy the ride.

Learn to adapt to change is fundamental to success in our modern world

Sepuluh tahun yang lalu saya tidak pernah membayangkan akan bisa memesan taxi atau ojek hanya dengan menekan tombol di smarphone saya dan taxi/ojek akan datang dalam hitungan menit. Tidak hanya itu, kalau payment nya pun bisa dibayar tanpa harus mengambil uang cash dari ATM, bisa juga hanya dengan menekan tombol di HP, klik dan sudah terbayar tanpa ada pertukaran uang secara fisik.

Dan kenyataannya perkembangan teknologi ini terjadi dengan cepat, seperti yang dilakukan oleh car-sharing app seperti Gojek/Grab. Sekarang ini, yang dilakukan oleh Gojek/Grab seolah-oleh menjadi sesuatu yang biasa, bahkan jika ojeknya datang telat sebentar saja sudah di complain 😁. Tapi kalau ditanya apakah yang dilakukan oleh Gojek/Grab ini akan terjadi, tapi ditanyanya sepuluh tahun yang lalu, mungkin anda bakal tidak percaya.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa betapa cepatnya teknologi mentransformasi sociocultural kita. Dan it’s happening at a rate that’s only to speed up, berdasarkan Moore’s Law. Dimana kecepatan komputing teknologi akan doubling setiap 18 hingga 24 bulan dan even lebih cepat lagi sekarang.

In the same way, ide-ide seperti virtual reality, self driving car, dan penerbangan luar angkasa komersial semakin cepat berkembang dari science fiction ke arah science fact. Dengan cara yang sama, pertumbuhan secara eksponensial juga terjadi pada teknologi komputer yang mendisrupsi bisnis model tradisional dan biaya supply chain. Hal ini tidak hanya mengarahkan kepada otomasi untuk mempermudah pekerjaan manusia, tapi juga akan menyebabkan tergantikannya tenaga kerja manusia menjadi mesin.

Kebanyakan perusahaan besar sangat terganggu dengan budaya yang menghambatnya untuk cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis dan teknologi. Corporate employee cenderung dibebani dengan outdated culture mengenai perencanaan yang berlebihan, meeting yang tidak perlu, office politics, dan budget blowouts.

On the other hand, entrepreneurs are well-positioned untuk merespon pergeseran ekonomi dan sosial. Bukan sebuah ketidaksengajaan jika anak-anak muda sekarang banyak yang mengambil jalan hidup menjadi seorang entreprenuers dengan membuat startup. Sejak 2014 hingga 2020 saja jumlah freelance dan startup tumbuh tiga kali lebih banyak dari sebelumnya. Global venture capital funding naik lebih dari 50 persen di tahun 2017, di tahun 2020 even lebih besar lagi.

Learning to adapt to change is fundamental to entrepreneurship, juga menjadi karakteristik yang penting jika kita mau beralih kedunia yang selalu bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diprediksi.

Baca kelanjutannya di next part…

1 comments On Transition from Employee to Entrepreneur – part 2

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer